Liputan
Blusukan
Cerita Pendek
Puisi
Geguritan
Penerimaan Peserta Didik Baru tahun pelajaran 2016-2017 dimulai Senin, 20 Juni 2016 sampai 4 hari ke depan (23 Juni 2016).
SMP Negeri 2 Purbalingga membuka 8 kelas dengan daya tampung masing-masing keas adalah 32 siswa, jadi total ssiswa kelas 7 yang diterima adalah 256 siswa.
PPDB tahun ini menggunakan sistem semi-online. Calon peserta didik tetap mendaftar secara manual di empat loket pendaftaran yang tersedia, sementara itu informasi seputar PPDB dapat diakses melalui http://infosmp2purbalingga.blogspot.co.id.
Semoga PPDB tahun pelajaran 2016-2017 berjalan dengan lancar, transparan dan menghasilkan bibit-bibit unggul demi kemajuan SMP Negeri 2 Purbaligga.
SMP Negeri 2 Purbalingga membuka 8 kelas dengan daya tampung masing-masing keas adalah 32 siswa, jadi total ssiswa kelas 7 yang diterima adalah 256 siswa.
PPDB tahun ini menggunakan sistem semi-online. Calon peserta didik tetap mendaftar secara manual di empat loket pendaftaran yang tersedia, sementara itu informasi seputar PPDB dapat diakses melalui http://infosmp2purbalingga.blogspot.co.id.
Semoga PPDB tahun pelajaran 2016-2017 berjalan dengan lancar, transparan dan menghasilkan bibit-bibit unggul demi kemajuan SMP Negeri 2 Purbaligga.
Toegoe
Joeang Blater
Toto Endargo
Rel kereta
api yang dulu menghubungkan Purbalingga – Purwokerto telah meninggalkan jejak
kisah heroik para pejuang pembela negara. Salah satunya adalah terjadinya
pertempuran di desa Blater. Pertempuran yang di awali dengan penghadangan
kereta api yang mengangkut pasukan Belanda. Pertempuranpun terjadi. Tembak
menembak. Dan para pejuang yang gugur menjadi kusuma negara, bunga penabur
kemerdekaan. Harum mewangi. Kisah kepahlawanan ini diperingati dengan
berdirinya sebuah monumen sederhana berupa tugu.
Tulisan Jawa di Kelas
Toto Endargo
![]() |
| Becik Ketitik Ala Ketara |
Ada yang menarik dari sebuah “poster” hasil karya siswa di sebuah
sekolah negeri. Mungkin tidak pas jika disebut poster karena umumnya poster ada
gambarnya. Tapi anggap saja poster sebab jika dilihat ada gambar garis-garis
yang pada akhirnya membentuk tulisan Jawa.
Menarik untuk jadi bahan renungan minimal sebagai bahan tulisan ini.
Gambar ini diambil saat menunggui try out bersama. Saya yakin saat mengambil gambar ini sama sekali tidak mengganggu para siswa yang sedang tekun mengerjakan soal.
Menarik untuk jadi bahan renungan minimal sebagai bahan tulisan ini.
Gambar ini diambil saat menunggui try out bersama. Saya yakin saat mengambil gambar ini sama sekali tidak mengganggu para siswa yang sedang tekun mengerjakan soal.
Upacara Hari Pendidikan Nasional
Kembali berulang, upacara Hari Pendidikan Nasional, Senin, tanggal 2 Mei 2016. Ada yang berbeda jika dibandingkan upacara reguler hari Senin. Tema kali ini adalah tradisional atau nasionalisme. Seluruh siswa minimal menggunakan baju batik, guru dan karyawan menggunakan pakaian adat. Meriah guru putri berkebaya, guru putra macam-macam, ada yang berbeskap, berblangkon. Ada pula yang sederhana dengan pakaian adat betawi. Tapi ada pula yang berpenampilan adat bali. Untuk pakaian adat jawa pun tak seragam, ada yang bergaya jogja dengan blangkon bermondhol, adapula yang berblangkon model Surakara, tanpa mondhol. Untuk blangkon model Banyumas blangkonnya ada dua klewerannya di belakang.
Pembina upacaranya Ibu Sri Larasati Tavipiyah S.Pd., sebagian para osis bertugas sebagai petugas upacara di sekolah. Dan sebagian yang lain yang telah terpilih oleh guru menjadi peserta upacara di alun-alun Purbalingga dengan menggunakan pakaian adat. Amanat yang disampaikan oleh Ibu Sri Larasati Tavipiyah, S.Pd. yaitu pidato dari menteri pendidikan dan kebudayaan antara lain disampaikan bahwa sudah sempantasnya para siswa mengenang jasa-jasa para pahlawan pendidikan, tidak hanya Ki Hajar Dewantara. Kakak Raden Ajeng Kartini patut dikenal karena R.M. Kartono juga ikut berjasa besar memajukan pendidikan di Indonesia. Bahkan dalam segi bahasa beliau sangat mengagumkan yaitu menguasai 26 bahasa asing dan 10 bahasa daerah di samping Bahasa Indonesia.***
Makna Hari Pendidikan Nasional
Hari ini, pada tanggal 2 Mei 2016 seluruh guru, siswa serta karyawan SMP N 2 Purbalingga melaksanakan upacara peringatan hari pendidikan nasional. Upacara berjalan dengan hikmat. Yang menjadi petugas upacara adalah anak OSIS. Tema pada upacara hari pendidikan nasional kali ini adalah nyalakan pelita terangkan cita-cita.
Selaku pembina upacara, ibu Larasati Tavapiah berpendapat bahwa “makna hari pendidikan bagi saya adalah selain kita harus meneruskan cita-cita pahlawan pendidikan, di era globalisasi teknologi yang sangat canggih ini kita harus menyikapi dengan memberikan filter agar pendidikan dan budaya yang tidak sesuai dengan warisan kita miliki bisa disaring. Kemudian makna yang lain kita harus bekerja keras supaya apa yang kita cita-citakan dapat terlaksana. pendidikan yang tinggi, pendidikan yang maju yang sesuai dengan negara-negara yang maju sehingga, kita tidak akan selamanya dikuasai dan dijajah bangsa-bangsa yang maju dan intinya pendidikan kita harus ditingkatkan.”
Selain itu, menurut ibu Larasati Tavapiah berpendapat ada perbedaan dalam memperingati hari pendidikan nasional di SMP N 2 Purbalingga yaitu dari segi tema dan visi misi serta semangat peringatan yang semarak karena didukung oleh bapak presiden RI, para menteri dan aparat pemerintahan.
Kesan dan Pesan Siswa.
Kesan dalam Hari Pendidikan Nasional menurut seorang siswa di SMP Negeri 2 Purbalingga bahwa pembelajaran semakin berbeda dari tahun lalu, yang membuat kita lebih rajin belajar. Di hari Pendidikan tahun 2016 para pelajar harus belajar lebih giat dengan cara mengerjakan PR di rumah tepat waktu dan membuat kelompok untuk belajar bersama agar bisa bertukar pikiran.
Menurut pendapat dari seorang siswa yang lain, memperingati Hari Pendidikan Nasional memiliki manfaat salah satunya yaitu agar bisa mengenang jasa para Pahlawan yang bisa menumbuhkan rasa nasionalisme dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional berarti kita sudah melaksanakan kewajiban warga negara terhadap NKRI, tanpa pendidikan kita tidak bisa sukses sampai saat ini karena kesuksesaan itu berawal dari pendidikan.
PIDATO MENTERI PENDIDIKAN DAN
KEBUDAYAAN RI
Pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2016
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam
sejahtera untuk kita semua,
Hari
ini kita kembali merayakan Hari Pendidikan Nasional. Mari kita panjatkan puji
dan puja ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, atas ijin, rahmat dan karunia-Nya
kita dapat kembali berkumpul merayakan semangat, capaian dan cita-cita
pendidikan dan kebudayaan bangsa.
Kepada
para pegiat pendidikan di seluruh penjuru Nusantara, ijinkan saya menyampaikan
apresiasi atas peran aktifnya dalam mencerdaskan saudara sebangsa. Kepada Ibu
dan Bapak pendidik di seluruh jenjang, yang tak lelah menyalurkan inspirasi,
membuka jalan pencerahan, dan membangkitkan asa setiap insan yang dididiknya
agar menjadi manusia yang berkarakter, berpengetahuan dan memberikan faedah
bagi sekitarnya, ijinkan saya atas nama pemerintah menghaturkan rasa hormat
mendalam.
Ibu,
Bapak dan Hadirin yang mulia,
Hari
Pendidikan Nasional kita rayakan sebagai hari kesadaran tentang pentingnya
kualitas manusia. Presiden Jokowi menggariskan bahwa Indonesia akan menjadi
bangsa yang disegani dunia dan akan berhasil dalam berbagai kompetisi era
global jika tinggi kualitas manusianya. manusia yang terdidik dan tercerahkan
adalah kunci kemajuan bangsa. Segala capaian yang kita raih sebagai individu
maupun sebagai bangsa kolektif tak lepas dari persinggungan dengan pendidikan.
Mutu dan jenjang pendidikan berdampak besar pada ruang kesempatan untuk maju
dan sejahtera. Maka memastikan setiap manusia Indonesia mendapatkan akses
pendidikan yang bermutu sepanjang hidupnya sama dengan memastikan kejayaan dan
keberlangsungan bangsa.
Dunia
saat ini adalah dunia yang sangat berbeda dengan dunia beberapa dekade lalu.
Perubahan terjadi begitu cepat dalam skala eksponensial yang tidak pernah
ditemui dalam sejarah umat manusia sebelumnya. Revolusi teknologi menjadi
pendorong lompatan perubahan yang akan berpengaruh pada cara kita hidup, cara
kita bekerja, dan tentu saja, cara kita belajar. Meramalkan masa depan menjadi
semakin sulit karena ketidakpastian perubahan yang ada. Namun yang harus kita
pastikan kepada anak-anak kita adalah bahwa kita memberikan dukungan sepenuhnya
kepada mereka untuk menyiapkan diri meraih kesempatan yang terpampang di
hadapannya.
Salah
satu dukungan yang perlu kita berikan pada anak-anak Indonesia adalah
memastikan bahwa apa yang mereka pelajari saat ini adalah apa yang memang
mereka butuhkan untuk menjawab tantangan jamannya. Keterampilan utuh yang
dibutuhkan oleh anak-anak Indonesia di abad 21 ini mencakup tiga komponen yaitu
kualitas karakter, kemampuan literasi, dan kompetensi.
Karakter
terdiri dari dua bagian. Pertama, karakter moral, sesuatu yang sering kita
bicarakan. Karaker moral itu antara lain adalah nilai Pancasila, keimanan,
ketakwaan, intergitas, kejujuran, keadilan, empati, rasa welas asih, sopan
santun. Yang kedua dan tak kalah pentingnya adalah karakter kinerja. Di antara
karakter kinerja adalah kerja keras, ulet, tangguh, rasa ingin tahu, inisiatif,
gigih, kemampuan beradaptasi, dan kepemimpinan. Kita ingin anak-anak Indonesia
menumbuhkan kedua bagian karakter ini secara seimbang. Kita tak ingin anak-anak
Indonesia menjadi anak yang jujur tapi malas, atau rajin tapi culas.
Keseimbangan karakter baik ini akan menjadi pemandunya dalam menghadapi
lingkungan perubahan yang begitu cepat.
Literasi
dasar menjadi komponen kemampuan abad 21 yang perlu kita perhatikan berikutnya.
Literasi dasar memungkinkan anak-anak meraih ilmu dan kemampuan yang lebih
tinggi serta menerapkannya kepada kehidupan hariannya. Bila selama ini kita
berfokus pada literasi baca-tulis dan berhitung yang masih harus kita perkuat,
maka kini kita perlu pula memperhatikan literasi sains, literasi teknologi,
literasi finansial dan literasi budaya.
Terakhir
dan tak kalah pentingnya adalah komponen kompetensi. Abad 21 menuntut anak-anak
Indonesia mampu menghadapi masalah-masalah yang kompleks dan tidak terstruktur.
Maka mereka membutuhkan kompetensi kemampuan kreativitas, kemampuan berpikir
kritis dan memecahkan masalah, kemampuan komunikasi serta kemampuan kolaborasi.
Ibu,
Bapak, dan Hadirin yang mulia,
Setiap
anak lahir sebagai pembelajar, tumbuh sebagai pembelajar. Kita semua
menyaksikan sendiri betapa anak-anak terlahir dengan rasa ingin tahu yang besar
dan keberanian untuk mencoba. Proses belajarnya didapatkan melalui permainan
dan petualangan. Lalu saat ia mulai melangkah masuk ke sekolah, ia mulai
berhadapan dengan struktur dan berbagai peraturan sebagai bagian dari sebuah
model masyarakat mini. Struktur dan berbagai peraturan yang ia hadapi ini dapat
mengarahkan mereka terus menjadi pembelajar, atau justru sebaliknya, meredupkan
hasrat belajarnya.
Adalah
tugas kita semua untuk memastikan binar keingintahuan di mata setiap anak
Indonesia, serta api semangat berkarya di dalam dirinya tidak akan padam.
Adalah tugas kita memberikan ruang bagi anak-anak Indonesia untuk
berkontribusi, memajukan dirinya, memajukan masyarakatnya, memajukan kebudayaan
bangsanya. Rasa percaya dari orang dewasa kepada anak-anak untuk berkarya dan
ikut membawa kebudayaan kita terus bergerak melangkah maju adalah kunci
kemajuan negara.
Ibu,
Bapak dan Hadirin yang berbahagia,
Hari
Pendidikan Nasional ini kita rayakan karena kita termasuk di antara yang sudah
merasakan dampaknya. Maka pada bulan Mei ini, di mana Hari Pendidikan Nasional
terletak, ayo kita ikut bergerak, ikut terlibat dalam memperluas dampak pendidikan
terhadap saudara-saudara sebangsa yang belum sepenuhnya merasakan kesempatan
itu. Karena itulah pada tahun ini kita memilih tema “Nyalakan Pelita, Terangkan
Cita-cita” sebagai tema keriaan Hari Pendidikan Nasional. Kita ingin pendidikan
benar-benar berperan sebagai pelita bagi setiap anak Indonesia yang akan
membuatnya bisa melihat peluang, mendorong kemajuan, menumbuhkan karakter, dan
memberikan kejernihan dalam menata dan menyiapkan masa depannya.
Mari
kita perluas keriaan pendidikan dan kebudayaan selama sebulan ke depan. Kita
bayar balik apa yang telah kita dapatkan dari pendidikan, kita gelorakan
semangat bergerak untuk pendidikan, dan kita teruskan ikhtiar bersama ini.
Kepada
semua yang telah merasakan manfaat pendidikan dan di bulan pendidikan ini,
sapalah para pendidik kita dulu. Tanyakan kabarnya, ucapkan terima kasih dan
tunjukkan apreasiasi pada mereka, para pendidik dan pejuang pendidikan. Lalu
mari sama-sama kita tetapkan bahwa ikhtiar memajukan pendidikan akan kita
lanjutkan dan kembangkan.
Semoga
Allah SWT, Tuhan Yang Maha Melapangkan dan Maha Meninggikan, selalu meridhai
ikhtiar kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa kita tercinta.
Selamat
Hari Pendidikan Nasional,
Selamat
merayakan dan memeriahkan bulan pendidikan dan kebudayaan.
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 2 Mei 2016
Anies Baswedan, Ph.D.
Cerita Pendek
MENGEJAR MAAF BUNDA
Khansa Pramestiara IX D
Ara merupakan gadis baik di lingkungan sekolahnya. Menyapa
guru, membantu teman sering ia lakukan. Sehingga ia mendapat julukan “Si Gadis
Baik”. Ara adalah anak kesayangan ibunya. Ia hanya tinggal bersama ibunya. Karena
sudah 12 tahun bapaknya meninggalkan mereka. Beruntung mereka sudah hidup berkecukupan.
Si Gadis Baik itu sekarang duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Senyum Ibu, Selalu Kami Nantikan
Khansa Pramestiara, Shelvia Putri D, Virdhaus Maulana A.
Khansa Pramestiara, Shelvia Putri D, Virdhaus Maulana A.
Beliau perlu diteladani, karena setelah
lulus SMA beliau malu untuk meminta uang pada orang tuanya. Beliau bertekad
mandiri.
“Ramah
dan murah senyum“ itulah predikat yang pantas untuk beliau, nama lengkapnya Sri
Rejeki Trisnowati, S.Pd., bertempat tinggal di Keponggok Rt 01/03, Wirasana,
Purbalingga. Namun awalnya bertempat
tinggal di Jalan Panjaitan, Purbalingga Lor, dekat Rumah Bersalin Ummu Hani.
PAK KASUR PAHLAWAN KANAK-KANAK
![]() |
| Pak Kasur |
Bahwa setiap anak di Indonesia mengenal lagu dengan lirik
seperti berikut:
“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi,
habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku.”
Dapat dikatakan setiap anak pernah dan hafal lagu di
atas. Pencipta lagu Bangun Tidur ini adalah putra asli Purbalingga. Penulis
telah menyusuri keberadaan pahlawan kanak-kanak ini dengan blusukan ke dua
tempat yang berbeda. Pertama ke Desa Serayu Larangan, Mrebet, Purbalingga dan
kedua ke Desa Kaliori, Kalibagor, Banyumas.
Cerita Pendek
KESANDUNG KAMAR KECIL
Toto Endargo
SMP Negeri 2
Purbalingga. Kelas 8B, tahun 2011.
Sekolah yang kusayangi
ternyata memberiku banyak memori. Mengesankan. Kesan indah, kesan konyol dan
berbagai kesan yang lain. Semua kesan muncul seiring dengan komunitas yang ada
di sekolah seperti teman, guru dan situasi sekolah. Tahun 2011/2012, ada dua
guru yang harus terlibat dalam cerita ini. Bu Dra. Rudi Mulyatiningsih, M.Pd.
dan Pak Bambang Singgih, S.Pd.
Dra. Rudi
Mulyatiningsih, M.Pd., adalah guru BK, Bimbingan dan Konseling atau ada yang
menyebutnya Bimbingan Karir. Guru yang juga peduli siswa. Suaranya cukup
lantang. Cukup ramai kalau sedang menasehati siswa. Kadang lembut mempesona
tetapi kadang juga nyelekit menyebalkan. Terlambat masuk kelas di saat beliau
mengajar, itu bisa mengakibatkan kita masuk angin karena telinga kita kemasukan
angin dari banyaknya petuah yang disampaikan beliau.
Hari Rabu 5 Okktober
2011, jam pertama di kelas 8B pelajaran BK. Setelah perwalian sekitar lima
menit, kita menunggu kedatangan Bu Rudi. Ternyata sampai lima menit, beliau
belum juga hadir di kelasku.
“Mungkin Bu Rudi, harus
menyelesaikan sesuatu yang penting!” kata batinku.
Dan di saat menunggu
itu, urin di tubuhku penuh dan mendesak kandung kemih, demi menjaga kesehatan
maka saya harus ke kamar kecil. Maklum, karena sarapan pagi ini, ibu memasak
nasi goreng yang sedikit kebanyakan minyak sehingga tadi saya harus minum lebih
banyak dari biasanya. Disyukuri saja.
Kuajak teman sebangkuku
untuk menemaniku ke kamar kecil. Jarak antara kelas 8B yang ada di lajur barat
nomor dua dari utara, ke kamar kecil itu cukup jauh. Hatus melewati kelas 8C,
8D, 8E, 8F, 8G, dan kelas 8H. Masih melewati depan laborat IPA, depan kelas 7B
dan 7C. Melewati depan perpustakaan, tempat lompat jauh, lapangan volley, he,
de, barulah sampai di kamar kecil untuk siswa putri.
Ada Pak Bambang
Singgih, S.Pd di Lapangan basket yang bersebelahan dengan lapangan volley.
Dengan seragam olahraga dan berkalung peluit. Priiit..! Peluit dibunyikan di
saat saya di lapangan volley. Jelas bunyi peluit itu ditujukan kepadaku,
berdua. Ah celaka!
Pak Bambang itu guru
olahraga, selalu serius dalam membimbing siswa. Setiap pagi beliau sudah
membunyikan peluit sebagai tanda bahwa dia harus diperhatikan perintahnya.
Kebersihan sekolah bagian yang sangat diperhatikan, mulai dari sampah yang
berserakan di lantai sampai tempat sampah yang sudah terisi sampah harus segera
dituang ke tempat pembuangan akhir di selatan kelas IX A. Kegiatan Pak bambang
berikutnya adalah menilang siswa yang terlambat, tidak seragam dan rambut panjang.
Terlambat lima menit berarti harus tunduk pada tugas yang segera diberikan oleh
Pak Bambang. Tugas yang baik sebenarnya, karena siswa diarahkan untuk berbuat
baik kepada sekolah, seperti mengatur pot bunga, menyapu ruangan, membersihkan
halaman, atau menyapu lapangan basket. Tapi menurut siswa tugas dari Pak
Bambang ini kadang dianggap cukup menyebalkan.
Pak Bambang telah
membunyikan peluitnya dengan suara yang sangat merdu.Dengan gagahnya ia
memanggil kami,tanpa menanyakan alasan kami ke kamar kecil, beliau langsung
menyuruh kami untuk membersihkan ruangan.
“Kamu berdua. Sini!”
panggilnya sambil mengayunkan jari telunjuk. Tentu saja ada debar jantung
berkecamuk di dada kami berdua.
“Ambil sapu! Bersihkan
ruang OSIS!” perintahnya tanpa basa-basi.
“Saya, Pak?” saya
mencoba bertanya.
“Iya! Menyapu ruang
OSIS!” perintahnya lagi lebih menekankan suaranya.
Apa boleh buat. Saya
harus patuh. Untung ruang OSIS tak begitu lebar. Ruang OSIS ada di sebelah
selatan Ruang Keterampilan. Dan selesai menyapu ruang OSIS itu saya
menyempatkan ke kamar kecil. Lega rasanya. Eh, ternyata emosi memerintahnya Pak
Bambang masih belum reda, begitu saya menginjak lapangan volley peluit beliau
berbunyi lagi. Pasti ada perintah lagi.
“Ruang ganti wanita
juga kotor! Disapu!” perintahnya dengan wajah dibuat seperti orang marah.
“Iya. Pak!” jawabku
sambil membetulkan rok. Ruang ganti wanita disebelah ruang OSIS. Ruangnya
sempit, ukuran 1,5 x 3 meter. Hanya ada sebuah cermin dan tempat gantungan baju
dari paku-paku. Hanya sebentar, disapu berdua sudah bersih.
Keluar dari kamar ganti
wanita. Kembali Pak bambang yang tinggi-atletis melenggang mendekatiku. Tangan
kanannya memegang sebatang bilah bambu. Bilah bambu diayun-ayunkan di depan
kami berdua.
“Siki, Qo bocah loro,
nyapu ruang BK!” perintahnya pakai bahasa jawa banyumasan. Saya hanya bisa
menganggukan kepala. Benar-benar tidak berani memprotes atau sekedar bilang
iya.
Ruang BK ada di timur
ruang guru. Tidak luas. Sebenarnya ruang ini sudah cukup bersih. Yang ada di
ruang BK hanya tiga guru, Ibu Dartuti, Pak Tarsid dan Bu Rudi. Pagi ini ruang
BK kosong, tak ada penghuninya, mungkin ketiganya sedang di kelas atau
berkepentingan yang lain. Yang ada hanya
data siswa dan buku yang ditata rapi di lemari dan sedikit berantakan di meja. Ada
sebuah komputer yang dilengkapi layar monitor dan sebuah printer. Karena ruang
sudah cukup bersih maka dengan cepat selesai juga menyapu ruang BK.
Agak bimbang, haruskah
saya melapor ke Pak Bambang bahwa pekerjaan telah dilaksanakan. Bimbang sebab
jika melapor, jangan-jangan malah disuruh-suruh lagi. Salah satu hobbynya Pak
Bambang adalah perintah dan menyuruh-nyuruh siswa. Hobby yang lain adalah
memegang mik, meniup peluit, menghukum siswa dan ngajar renang.
Alhamdulillah! Kami
berdua diijinkan untuk masuk kelas.
“Jangan terlambat
lagi!” kata Pak Bambang. Lho!
Busyet, ternyata saya
dan temanku oleh Pak bambang disuruh-suruh nyapu itu karena kami berdua
dianggap terlambat berangkat sekolah, tho! Saya geleng-geleng kepala. Pagi yang
mengesankan. Sekitar dua puluh lima menit kami melaksanakan perintah Pak
Bambang.
Kini menuju kelas 8B.
Kelas yang kusayangi.
“Metung ngendi?”
tanyaku kepada temanku. Harus lewat mana untuk sampai ke kelas 8B. Lewat
selatan atau lewat utara. Kalau lewat selatan berarti harus melewati ruang
guru, lalu berjalan di depan kelas 8F, 8E, 8D, dan 8C. Agak malu, sebab
anak-anak pasti akan berpendapat bahwa saya berdua telah mendapat hukuman dari
Pak Bambang. Sehingga terlambat masuk kelas.
“Tung ngalor baelah!”
ajakku. Kalau lewat utara maksimal hanya dilihat oleh kelas 8A. Maka kami
berdua berjalan lewat gang senggol. Gang yang konon sudah ada sejak sekolah ini
berdiri yaitu lorong di sebelah timur kelas yang berada di lajur timur.
Sekarang ada di belakang kelas 7D, E, F, G. Belok kiri sedikit ada di depan
ruang arsip, mlipir di selatan toilet Guru dan TU, maka sampai di depan kelas
8A dan kelas 8B.
Tiba di kelas ternyata
Bu Rudy sudah datang. Suaranya yang lantang sudah terdengar ketika kami sampai
di depan kelas 8A.
“Terlambat masuk kelas
bukan hal yang baik. Jangan belajar jadi pemalas. Belum masanya jajan.
Pelajaran sudah berjalan setengah jam kamu baru masuk. Perilaku yang tak
pantas. Kapan kamu belajar disiplin. Kamu generasi muda harapan bangsa. Harus
menjadi generasi yang berkarakter positif. Terpuji dan berprestasi. Bla-bala
...”
Astagfirulah.
Kami dimarahi karena
terlambat mengikuti pelajaran. Kami ingin menjelaskan mengapa kami bisa
terlambat tapi tak sempat!
Nasib!
Catatan:
diambil dari: http://totoendargosip.blogspot.co.id/2016/04/kesandung-kamar-kecil.html
| Pak Heru (kiri) dan Pak Aman (kanan) berjabat tangan dalam acara Lepas Sambut Kepala Sekolah |
Seperti tahun ini misalnya, kepala sekolah kami yang lama yaitu Bapak Aman Musthofan, S.Pd, M.Pd dirolling dari SMPN 2 Purbalingga ke SMPN 2 Kalimanah (28/3). Sementara yang menggantikan beliau adalah Bapak Heru Prayitno, S.Pd, M.Si, dari SMPN 2 Kalimanah ke SMPN 2 Purbalingga. Jadi seperti bertukar tempat saja. Semoga bisa bertugas dengan baik ya, Bapak-bapak...
ESQ Kelas IX Tahun Pelajaran 2015/2016 SMP Negeri 2 Purbalingga
Memotivasi Siswa dengan ESQ
Shelvia Putri Damayanti - IXG
Jumat, 22 April 2016, SMP N 2 Purbalingga
Emotional Spiritual Quotient atau sering disingkat dengan ESQ telah
dilaksanakan untuk semua siswa-siswi kelas 9 dan juga orang tua atau wali murid,
dengan tujuan agar orang tua dan siswa mampu bekerja sama dalam meningkatkan
kualitas belajar agar prestasi para siswa meningkat sehingga dapat membawa nama
baik SMP N 2 Purbalingga. Emotional Spiritual Quotient ini dilaksanakan di
Gedung Sarwa Guna pada pukul 08. 00 – selesai. Di sana semua siswa-siswi kelas
9 duduk berdampingan dengan orang tua masing-masing.
Acara ini dipandu oleh salah satu motivator yang sekaligus sebagai orang
tua salah satu siswi kelas 9, yang bernama Ibu Dra. Rudi Mulyatiningsih, M.Pd
atau sering disapa dengan Ibu Rudi. Pada pertemuan itu Ibu Rudi menasihati para
siswa agar mampu untuk mengurangi waktu bermainnya dan menambah waktu
belajarnya dalam kurun waktu setengah bulan ini atau sampai hari terakhir UN.
Acara itu terdiri dari beberapa susunan acara, antara lain pembukaan, doa,
sambutan dari Kepala Sekolah, ESQ, dan juga penutup. Pada saat ESQ ada sesi bagi
orang tua menyampaikan harapan kepada anaknya masing-masing, serta ada juga
sesi dimana para siswa meminta maaf pada orang tua melalui sebuah surat.
Setelah dirasa cukup untuk memotivasi para siswa dan orang tua. Ibu Rudi
pun menyuruh semua siswa untuk merenungkan hal-hal yang pernah mereka lakukan
dengan orang tuanya masing-masing. Setelah itu Ibu Rudi pun menyuruh para siswa
dan orang tua muslim untuk menyenandungkan Asmaul Husna yang dibantu dengan
sebuah tayangan video.
Menurut Bapak Harmanto selaku wali kelas dari 9G berpendapat bahwa acara
ESQ ini cukup menarik bagi orang tua dan
siswa sehingga keduanya mampu termotivasi apa yang belum dilakukan oleh mereka.
Sayangnya ada sebagian siswa dan orang tua yang datang terlambat ketika
menghadiri acara tersebut.
Sedangkan menurut Ibu Dwi Wahyuni selaku wali kelas dari kelas 9C
berpendapat bahwa acara ESQ cukup menarik, tetapi masalah termotivasi atau
tidaknya itu tergantung pada siswa dan orang tuanya masing-masing.
Demikian sedikit liputan kami dalam acara ESQ. Semoga bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
ESQ Kelas IX Tahun Pelajaran 2015/2016 SMP Negeri 2 Purbalingga Memotivasi Siswa dengan ESQ Shelvia Putri Damayanti - IXG ...
-
PERINGATAN HARI KARTINI R.A Kartini adalah pahlawan emansipasi wanita , yang lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Raden Ajeng Ka...
-
Penerimaan Peserta Didik Baru tahun pelajaran 2016-2017 dimulai Senin, 20 Juni 2016 sampai 4 hari ke depan (23 Juni 2016). SMP Negeri 2 Pu...
-
Tulisan Jawa di Kelas Toto Endargo Becik Ketitik Ala Ketara Ada yang menarik dari sebuah “poster” hasil karya siswa di sebuah sek...
-
INDUSTRI KAMPUNG IRUS Industri batok kelapa yang berada di Kelurahan Purbalingga Wetan, Kecamatan dan Kabupaten Purbalingga, ...
-
ES DURIAN KOMBINASI PAK KASDI Di siang hari yang panas, meminum es durian menjadi pilihan banyak orang, apalagi meminum es durian ...
-
BUBUR AYAM “HAYAM WURUK” Bubur ayam “Hayam Wuruk” merupakan salah satu kuliner yang terkenal di Purbalingga. Bubur ayam “Hayam W...
-
Toegoe Joeang Blater Toto Endargo Rel kereta api yang dulu menghubungkan Purbalingga – Purwokerto telah meninggalkan jejak kisah ...
-
WARUNG “SOTO SO” BU SLAMET Warung “Soto So” berada di desa Bojong, tepatnya di Jalan Tirta Yudha. Nama pemilik warung ini adalah Bu...
-
Pak Heru (kiri) dan Pak Aman (kanan) berjabat tangan dalam acara Lepas Sambut Kepala Sekolah Dalam beberapa tahun belakangan, sekolah ka...







