Select Menu
Select Menu

Kegiatan Sekolah

Liputan

Blusukan

Cerita Pendek

Puisi

Geguritan

Penerimaan Peserta Didik Baru tahun pelajaran 2016-2017 dimulai Senin, 20 Juni 2016 sampai 4 hari ke depan (23 Juni 2016).

SMP Negeri 2 Purbalingga membuka 8 kelas dengan daya tampung masing-masing keas adalah 32 siswa, jadi total ssiswa kelas 7 yang diterima adalah 256 siswa.



PPDB tahun ini menggunakan sistem semi-online. Calon peserta didik tetap mendaftar secara manual di empat loket pendaftaran yang tersedia, sementara itu informasi seputar PPDB dapat diakses melalui http://infosmp2purbalingga.blogspot.co.id.

Semoga PPDB tahun pelajaran 2016-2017 berjalan dengan lancar, transparan dan menghasilkan bibit-bibit unggul demi kemajuan SMP Negeri 2 Purbaligga.

Toegoe Joeang Blater
Toto Endargo

Rel kereta api yang dulu menghubungkan Purbalingga – Purwokerto telah meninggalkan jejak kisah heroik para pejuang pembela negara. Salah satunya adalah terjadinya pertempuran di desa Blater. Pertempuran yang di awali dengan penghadangan kereta api yang mengangkut pasukan Belanda. Pertempuranpun terjadi. Tembak menembak. Dan para pejuang yang gugur menjadi kusuma negara, bunga penabur kemerdekaan. Harum mewangi. Kisah kepahlawanan ini diperingati dengan berdirinya sebuah monumen sederhana berupa tugu.
Tulisan Jawa di Kelas
Toto Endargo
Becik Ketitik Ala Ketara
Ada yang menarik dari sebuah “poster” hasil karya siswa di sebuah sekolah negeri. Mungkin tidak pas jika disebut poster karena umumnya poster ada gambarnya. Tapi anggap saja poster sebab jika dilihat ada gambar garis-garis yang pada akhirnya membentuk tulisan Jawa.
Menarik untuk jadi bahan renungan minimal sebagai bahan tulisan ini.
Gambar ini diambil saat menunggui try out bersama. Saya yakin saat mengambil gambar ini sama sekali tidak mengganggu para siswa yang sedang tekun mengerjakan soal.
Upacara Hari Pendidikan Nasional
Kembali berulang, upacara Hari Pendidikan Nasional, Senin, tanggal 2 Mei 2016. Ada yang berbeda jika dibandingkan upacara reguler hari Senin. Tema kali ini adalah tradisional atau nasionalisme. Seluruh siswa minimal menggunakan baju batik, guru dan karyawan menggunakan pakaian adat. Meriah guru putri berkebaya, guru putra macam-macam, ada yang berbeskap, berblangkon. Ada pula yang sederhana dengan pakaian adat betawi. Tapi ada pula yang berpenampilan adat bali. Untuk pakaian adat jawa pun tak seragam, ada yang bergaya jogja dengan blangkon bermondhol, adapula yang berblangkon model Surakara, tanpa mondhol. Untuk blangkon model Banyumas blangkonnya ada dua klewerannya di belakang.
Pembina upacaranya Ibu Sri Larasati Tavipiyah S.Pd., sebagian para osis bertugas sebagai petugas upacara di sekolah. Dan sebagian yang lain yang telah terpilih oleh guru menjadi peserta upacara di alun-alun Purbalingga dengan menggunakan pakaian adat. Amanat yang disampaikan oleh Ibu Sri Larasati Tavipiyah, S.Pd. yaitu pidato dari menteri pendidikan dan kebudayaan antara lain disampaikan bahwa sudah sempantasnya para siswa mengenang jasa-jasa para pahlawan pendidikan, tidak hanya Ki Hajar Dewantara. Kakak Raden Ajeng Kartini patut dikenal karena R.M. Kartono juga ikut berjasa besar memajukan pendidikan di Indonesia. Bahkan dalam segi bahasa beliau sangat mengagumkan yaitu menguasai 26 bahasa asing dan 10 bahasa daerah di samping Bahasa Indonesia.
***

Makna Hari Pendidikan Nasional

Hari ini, pada tanggal 2 Mei 2016 seluruh guru, siswa serta karyawan SMP N 2 Purbalingga melaksanakan upacara peringatan hari pendidikan nasional. Upacara berjalan dengan hikmat. Yang menjadi petugas upacara adalah anak OSIS. Tema pada upacara hari pendidikan nasional kali ini adalah nyalakan pelita terangkan cita-cita.
Selaku pembina upacara, ibu Larasati Tavapiah berpendapat bahwa “makna hari pendidikan bagi saya adalah selain kita harus meneruskan cita-cita pahlawan pendidikan, di era globalisasi teknologi yang sangat canggih ini kita harus menyikapi dengan memberikan filter agar pendidikan dan budaya yang tidak sesuai dengan warisan kita miliki bisa disaring. Kemudian makna yang lain kita harus bekerja keras supaya apa yang kita cita-citakan dapat terlaksana. pendidikan yang tinggi, pendidikan yang maju yang sesuai dengan negara-negara yang maju sehingga, kita tidak akan selamanya dikuasai dan dijajah bangsa-bangsa yang maju dan intinya pendidikan kita harus ditingkatkan.”
Selain itu, menurut ibu Larasati Tavapiah berpendapat ada perbedaan dalam memperingati hari pendidikan nasional di SMP N 2 Purbalingga yaitu dari segi tema dan visi misi serta semangat peringatan yang semarak karena didukung oleh bapak presiden RI, para menteri dan aparat pemerintahan.

 
Kesan dan Pesan Siswa.
Kesan dalam Hari Pendidikan Nasional menurut seorang siswa di SMP Negeri 2 Purbalingga bahwa pembelajaran semakin berbeda dari tahun lalu, yang membuat kita lebih rajin belajar. Di hari Pendidikan tahun 2016 para pelajar harus belajar lebih giat dengan cara mengerjakan PR di rumah tepat waktu dan membuat kelompok untuk belajar bersama agar bisa bertukar pikiran.

Menurut pendapat dari seorang siswa yang lain, memperingati Hari Pendidikan Nasional memiliki manfaat salah satunya yaitu agar bisa mengenang jasa para Pahlawan yang bisa menumbuhkan rasa nasionalisme dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional berarti kita sudah melaksanakan kewajiban warga negara terhadap NKRI, tanpa pendidikan kita tidak bisa sukses sampai saat ini karena kesuksesaan itu berawal dari pendidikan.





PIDATO MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI
Pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2016

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Hari ini kita kembali merayakan Hari Pendidikan Nasional. Mari kita panjatkan puji dan puja ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha  Penyayang, atas ijin, rahmat dan karunia-Nya kita dapat kembali berkumpul merayakan semangat, capaian dan cita-cita pendidikan dan kebudayaan bangsa.
Kepada para pegiat pendidikan di seluruh penjuru Nusantara, ijinkan saya menyampaikan apresiasi atas peran aktifnya dalam mencerdaskan saudara sebangsa. Kepada Ibu dan Bapak pendidik di seluruh jenjang, yang tak lelah menyalurkan inspirasi, membuka jalan pencerahan, dan membangkitkan asa setiap insan yang dididiknya agar menjadi manusia yang berkarakter, berpengetahuan dan memberikan faedah bagi sekitarnya, ijinkan saya atas nama pemerintah menghaturkan rasa hormat mendalam.
Ibu, Bapak dan Hadirin yang mulia,
Hari Pendidikan Nasional kita rayakan sebagai hari kesadaran tentang pentingnya kualitas manusia. Presiden Jokowi menggariskan bahwa Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani dunia dan akan berhasil dalam berbagai kompetisi era global jika tinggi kualitas manusianya. manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci kemajuan bangsa. Segala capaian yang kita raih sebagai individu maupun sebagai bangsa kolektif tak lepas dari persinggungan dengan pendidikan. Mutu dan jenjang pendidikan berdampak besar pada ruang kesempatan untuk maju dan sejahtera. Maka memastikan setiap manusia Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang bermutu sepanjang hidupnya sama dengan memastikan kejayaan dan keberlangsungan bangsa.
Dunia saat ini adalah dunia yang sangat berbeda dengan dunia beberapa dekade lalu. Perubahan terjadi begitu cepat dalam skala eksponensial yang tidak pernah ditemui dalam sejarah umat manusia sebelumnya. Revolusi teknologi menjadi pendorong lompatan perubahan yang akan berpengaruh pada cara kita hidup, cara kita bekerja, dan tentu saja, cara kita belajar. Meramalkan masa depan menjadi semakin sulit karena ketidakpastian perubahan yang ada. Namun yang harus kita pastikan kepada anak-anak kita adalah bahwa kita memberikan dukungan sepenuhnya kepada mereka untuk menyiapkan diri meraih kesempatan yang terpampang di hadapannya.
Salah satu dukungan yang perlu kita berikan pada anak-anak Indonesia adalah memastikan bahwa apa yang mereka pelajari saat ini adalah apa yang memang mereka butuhkan untuk menjawab tantangan jamannya. Keterampilan utuh yang dibutuhkan oleh anak-anak Indonesia di abad 21 ini mencakup tiga komponen yaitu kualitas karakter, kemampuan literasi, dan kompetensi.
Karakter terdiri dari dua bagian. Pertama, karakter moral, sesuatu yang sering kita bicarakan. Karaker moral itu antara lain adalah nilai Pancasila, keimanan, ketakwaan, intergitas, kejujuran, keadilan, empati, rasa welas asih, sopan santun. Yang kedua dan tak kalah pentingnya adalah karakter kinerja. Di antara karakter kinerja adalah kerja keras, ulet, tangguh, rasa ingin tahu, inisiatif, gigih, kemampuan beradaptasi, dan kepemimpinan. Kita ingin anak-anak Indonesia menumbuhkan kedua bagian karakter ini secara seimbang. Kita tak ingin anak-anak Indonesia menjadi anak yang jujur tapi malas, atau rajin tapi culas. Keseimbangan karakter baik ini akan menjadi pemandunya dalam menghadapi lingkungan perubahan yang begitu cepat.
Literasi dasar menjadi komponen kemampuan abad 21 yang perlu kita perhatikan berikutnya. Literasi dasar memungkinkan anak-anak meraih ilmu dan kemampuan yang lebih tinggi serta menerapkannya kepada kehidupan hariannya. Bila selama ini kita berfokus pada literasi baca-tulis dan berhitung yang masih harus kita perkuat, maka kini kita perlu pula memperhatikan literasi sains, literasi teknologi, literasi finansial dan literasi budaya.
Terakhir dan tak kalah pentingnya adalah komponen kompetensi. Abad 21 menuntut anak-anak Indonesia mampu menghadapi masalah-masalah yang kompleks dan tidak terstruktur. Maka mereka membutuhkan kompetensi kemampuan kreativitas, kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah, kemampuan komunikasi serta kemampuan kolaborasi.
Ibu, Bapak, dan Hadirin yang mulia,
Setiap anak lahir sebagai pembelajar, tumbuh sebagai pembelajar. Kita semua menyaksikan sendiri betapa anak-anak terlahir dengan rasa ingin tahu yang besar dan keberanian untuk mencoba. Proses belajarnya didapatkan melalui permainan dan petualangan. Lalu saat ia mulai melangkah masuk ke sekolah, ia mulai berhadapan dengan struktur dan berbagai peraturan sebagai bagian dari sebuah model masyarakat mini. Struktur dan berbagai peraturan yang ia hadapi ini dapat mengarahkan mereka terus menjadi pembelajar, atau justru sebaliknya, meredupkan hasrat belajarnya.
Adalah tugas kita semua untuk memastikan binar keingintahuan di mata setiap anak Indonesia, serta api semangat berkarya di dalam dirinya tidak akan padam. Adalah tugas kita memberikan ruang bagi anak-anak Indonesia untuk berkontribusi, memajukan dirinya, memajukan masyarakatnya, memajukan kebudayaan bangsanya. Rasa percaya dari orang dewasa kepada anak-anak untuk berkarya dan ikut membawa kebudayaan kita terus bergerak melangkah maju adalah kunci kemajuan negara.
Ibu, Bapak dan Hadirin yang berbahagia,
Hari Pendidikan Nasional ini kita rayakan karena kita termasuk di antara yang sudah merasakan dampaknya. Maka pada bulan Mei ini, di mana Hari Pendidikan Nasional terletak, ayo kita ikut bergerak, ikut terlibat dalam memperluas dampak pendidikan terhadap saudara-saudara sebangsa yang belum sepenuhnya merasakan kesempatan itu. Karena itulah pada tahun ini kita memilih tema “Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-cita” sebagai tema keriaan Hari Pendidikan Nasional. Kita ingin pendidikan benar-benar berperan sebagai pelita bagi setiap anak Indonesia yang akan membuatnya bisa melihat peluang, mendorong kemajuan, menumbuhkan karakter, dan memberikan kejernihan dalam menata dan menyiapkan masa depannya.
Mari kita perluas keriaan pendidikan dan kebudayaan selama sebulan ke depan. Kita bayar balik apa yang telah kita dapatkan dari pendidikan, kita gelorakan semangat bergerak untuk pendidikan, dan kita teruskan ikhtiar bersama ini.
Kepada semua yang telah merasakan manfaat pendidikan dan di bulan pendidikan ini, sapalah para pendidik kita dulu. Tanyakan kabarnya, ucapkan terima kasih dan tunjukkan apreasiasi pada mereka, para pendidik dan pejuang pendidikan. Lalu mari sama-sama kita tetapkan bahwa ikhtiar memajukan pendidikan akan kita lanjutkan dan kembangkan.
Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Melapangkan dan Maha Meninggikan, selalu meridhai ikhtiar kita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa kita tercinta.
Selamat Hari Pendidikan Nasional,
Selamat merayakan dan memeriahkan bulan pendidikan dan kebudayaan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 2 Mei 2016
Anies Baswedan, Ph.D.


Cerita Pendek
MENGEJAR MAAF BUNDA
Khansa Pramestiara IX D

Ara merupakan gadis baik di lingkungan sekolahnya. Menyapa guru, membantu teman sering ia lakukan. Sehingga ia mendapat julukan “Si Gadis Baik”. Ara adalah anak kesayangan ibunya. Ia hanya tinggal bersama ibunya. Karena sudah 12 tahun bapaknya meninggalkan mereka. Beruntung mereka sudah hidup berkecukupan. Si Gadis Baik itu sekarang duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Senyum Ibu, Selalu Kami Nantikan
Khansa Pramestiara, Shelvia Putri D, Virdhaus Maulana A.

Beliau perlu diteladani, karena setelah lulus SMA beliau malu untuk meminta uang pada orang tuanya. Beliau bertekad mandiri.
“Ramah dan murah senyum“ itulah predikat yang pantas untuk beliau, nama lengkapnya Sri Rejeki Trisnowati, S.Pd., bertempat tinggal di Keponggok Rt 01/03, Wirasana, Purbalingga.  Namun awalnya bertempat tinggal di Jalan Panjaitan, Purbalingga Lor, dekat Rumah Bersalin Ummu Hani. 

PAK KASUR PAHLAWAN KANAK-KANAK

Pak Kasur
 Seorang tokoh pendidikan khususnya bagi anak-anak, ternyata lahir di Bumi Purbalingga, karyanya merata dikenal di seluruh negeri, bahkan terbawa dan dibawa oleh putra-putri bangsa kemana saja mereka berada.
Bahwa setiap anak di Indonesia mengenal lagu dengan lirik seperti berikut:
“Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku.”
Dapat dikatakan setiap anak pernah dan hafal lagu di atas. Pencipta lagu Bangun Tidur ini adalah putra asli Purbalingga. Penulis telah menyusuri keberadaan pahlawan kanak-kanak ini dengan blusukan ke dua tempat yang berbeda. Pertama ke Desa Serayu Larangan, Mrebet, Purbalingga dan kedua ke Desa Kaliori, Kalibagor, Banyumas.
Cerita Pendek
KESANDUNG KAMAR KECIL
Toto Endargo

SMP Negeri 2 Purbalingga. Kelas 8B, tahun 2011.
Sekolah yang kusayangi ternyata memberiku banyak memori. Mengesankan. Kesan indah, kesan konyol dan berbagai kesan yang lain. Semua kesan muncul seiring dengan komunitas yang ada di sekolah seperti teman, guru dan situasi sekolah. Tahun 2011/2012, ada dua guru yang harus terlibat dalam cerita ini. Bu Dra. Rudi Mulyatiningsih, M.Pd. dan Pak Bambang Singgih, S.Pd.
Dra. Rudi Mulyatiningsih, M.Pd., adalah guru BK, Bimbingan dan Konseling atau ada yang menyebutnya Bimbingan Karir. Guru yang juga peduli siswa. Suaranya cukup lantang. Cukup ramai kalau sedang menasehati siswa. Kadang lembut mempesona tetapi kadang juga nyelekit menyebalkan. Terlambat masuk kelas di saat beliau mengajar, itu bisa mengakibatkan kita masuk angin karena telinga kita kemasukan angin dari banyaknya petuah yang disampaikan beliau.
Hari Rabu 5 Okktober 2011, jam pertama di kelas 8B pelajaran BK. Setelah perwalian sekitar lima menit, kita menunggu kedatangan Bu Rudi. Ternyata sampai lima menit, beliau belum juga hadir di kelasku.
“Mungkin Bu Rudi, harus menyelesaikan sesuatu yang penting!” kata batinku.
Dan di saat menunggu itu, urin di tubuhku penuh dan mendesak kandung kemih, demi menjaga kesehatan maka saya harus ke kamar kecil. Maklum, karena sarapan pagi ini, ibu memasak nasi goreng yang sedikit kebanyakan minyak sehingga tadi saya harus minum lebih banyak dari biasanya. Disyukuri saja.
Kuajak teman sebangkuku untuk menemaniku ke kamar kecil. Jarak antara kelas 8B yang ada di lajur barat nomor dua dari utara, ke kamar kecil itu cukup jauh. Hatus melewati kelas 8C, 8D, 8E, 8F, 8G, dan kelas 8H. Masih melewati depan laborat IPA, depan kelas 7B dan 7C. Melewati depan perpustakaan, tempat lompat jauh, lapangan volley, he, de, barulah sampai di kamar kecil untuk siswa putri.
Ada Pak Bambang Singgih, S.Pd di Lapangan basket yang bersebelahan dengan lapangan volley. Dengan seragam olahraga dan berkalung peluit. Priiit..! Peluit dibunyikan di saat saya di lapangan volley. Jelas bunyi peluit itu ditujukan kepadaku, berdua. Ah celaka!
Pak Bambang itu guru olahraga, selalu serius dalam membimbing siswa. Setiap pagi beliau sudah membunyikan peluit sebagai tanda bahwa dia harus diperhatikan perintahnya. Kebersihan sekolah bagian yang sangat diperhatikan, mulai dari sampah yang berserakan di lantai sampai tempat sampah yang sudah terisi sampah harus segera dituang ke tempat pembuangan akhir di selatan kelas IX A. Kegiatan Pak bambang berikutnya adalah menilang siswa yang terlambat, tidak seragam dan rambut panjang. Terlambat lima menit berarti harus tunduk pada tugas yang segera diberikan oleh Pak Bambang. Tugas yang baik sebenarnya, karena siswa diarahkan untuk berbuat baik kepada sekolah, seperti mengatur pot bunga, menyapu ruangan, membersihkan halaman, atau menyapu lapangan basket. Tapi menurut siswa tugas dari Pak Bambang ini kadang dianggap cukup menyebalkan.
Pak Bambang telah membunyikan peluitnya dengan suara yang sangat merdu.Dengan gagahnya ia memanggil kami,tanpa menanyakan alasan kami ke kamar kecil, beliau langsung menyuruh kami untuk membersihkan ruangan.
“Kamu berdua. Sini!” panggilnya sambil mengayunkan jari telunjuk. Tentu saja ada debar jantung berkecamuk di dada kami berdua.
“Ambil sapu! Bersihkan ruang OSIS!” perintahnya tanpa basa-basi.
“Saya, Pak?” saya mencoba bertanya.
“Iya! Menyapu ruang OSIS!” perintahnya lagi lebih menekankan suaranya.
Apa boleh buat. Saya harus patuh. Untung ruang OSIS tak begitu lebar. Ruang OSIS ada di sebelah selatan Ruang Keterampilan. Dan selesai menyapu ruang OSIS itu saya menyempatkan ke kamar kecil. Lega rasanya. Eh, ternyata emosi memerintahnya Pak Bambang masih belum reda, begitu saya menginjak lapangan volley peluit beliau berbunyi lagi. Pasti ada perintah lagi.
“Ruang ganti wanita juga kotor! Disapu!” perintahnya dengan wajah dibuat seperti orang marah.
“Iya. Pak!” jawabku sambil membetulkan rok. Ruang ganti wanita disebelah ruang OSIS. Ruangnya sempit, ukuran 1,5 x 3 meter. Hanya ada sebuah cermin dan tempat gantungan baju dari paku-paku. Hanya sebentar, disapu berdua sudah bersih.
Keluar dari kamar ganti wanita. Kembali Pak bambang yang tinggi-atletis melenggang mendekatiku. Tangan kanannya memegang sebatang bilah bambu. Bilah bambu diayun-ayunkan di depan kami berdua.
“Siki, Qo bocah loro, nyapu ruang BK!” perintahnya pakai bahasa jawa banyumasan. Saya hanya bisa menganggukan kepala. Benar-benar tidak berani memprotes atau sekedar bilang iya.
Ruang BK ada di timur ruang guru. Tidak luas. Sebenarnya ruang ini sudah cukup bersih. Yang ada di ruang BK hanya tiga guru, Ibu Dartuti, Pak Tarsid dan Bu Rudi. Pagi ini ruang BK kosong, tak ada penghuninya, mungkin ketiganya sedang di kelas atau berkepentingan yang lain.  Yang ada hanya data siswa dan buku yang ditata rapi di lemari dan sedikit berantakan di meja. Ada sebuah komputer yang dilengkapi layar monitor dan sebuah printer. Karena ruang sudah cukup bersih maka dengan cepat selesai juga menyapu ruang BK.
Agak bimbang, haruskah saya melapor ke Pak Bambang bahwa pekerjaan telah dilaksanakan. Bimbang sebab jika melapor, jangan-jangan malah disuruh-suruh lagi. Salah satu hobbynya Pak Bambang adalah perintah dan menyuruh-nyuruh siswa. Hobby yang lain adalah memegang mik, meniup peluit, menghukum siswa dan ngajar renang.
Alhamdulillah! Kami berdua diijinkan untuk masuk kelas.
“Jangan terlambat lagi!” kata Pak Bambang. Lho!
Busyet, ternyata saya dan temanku oleh Pak bambang disuruh-suruh nyapu itu karena kami berdua dianggap terlambat berangkat sekolah, tho! Saya geleng-geleng kepala. Pagi yang mengesankan. Sekitar dua puluh lima menit kami melaksanakan perintah Pak Bambang.
Kini menuju kelas 8B. Kelas yang kusayangi.
“Metung ngendi?” tanyaku kepada temanku. Harus lewat mana untuk sampai ke kelas 8B. Lewat selatan atau lewat utara. Kalau lewat selatan berarti harus melewati ruang guru, lalu berjalan di depan kelas 8F, 8E, 8D, dan 8C. Agak malu, sebab anak-anak pasti akan berpendapat bahwa saya berdua telah mendapat hukuman dari Pak Bambang. Sehingga terlambat masuk kelas.
“Tung ngalor baelah!” ajakku. Kalau lewat utara maksimal hanya dilihat oleh kelas 8A. Maka kami berdua berjalan lewat gang senggol. Gang yang konon sudah ada sejak sekolah ini berdiri yaitu lorong di sebelah timur kelas yang berada di lajur timur. Sekarang ada di belakang kelas 7D, E, F, G. Belok kiri sedikit ada di depan ruang arsip, mlipir di selatan toilet Guru dan TU, maka sampai di depan kelas 8A dan kelas 8B.
Tiba di kelas ternyata Bu Rudy sudah datang. Suaranya yang lantang sudah terdengar ketika kami sampai di depan kelas 8A.
“Terlambat masuk kelas bukan hal yang baik. Jangan belajar jadi pemalas. Belum masanya jajan. Pelajaran sudah berjalan setengah jam kamu baru masuk. Perilaku yang tak pantas. Kapan kamu belajar disiplin. Kamu generasi muda harapan bangsa. Harus menjadi generasi yang berkarakter positif. Terpuji dan berprestasi. Bla-bala ...”
Astagfirulah.
Kami dimarahi karena terlambat mengikuti pelajaran. Kami ingin menjelaskan mengapa kami bisa terlambat tapi tak sempat!
Nasib!


Catatan:
diambil dari: http://totoendargosip.blogspot.co.id/2016/04/kesandung-kamar-kecil.html



Pak Heru (kiri) dan Pak Aman (kanan) berjabat tangan dalam acara Lepas Sambut Kepala Sekolah
Dalam beberapa tahun belakangan, sekolah kami mengalami pergantian kepala sekolah. Nggak cuma sekali, tapi hampir setiap tahun berganti.
Seperti tahun ini misalnya, kepala sekolah kami yang lama yaitu Bapak Aman Musthofan, S.Pd, M.Pd dirolling dari SMPN 2 Purbalingga ke SMPN 2 Kalimanah (28/3). Sementara yang menggantikan beliau adalah Bapak Heru Prayitno, S.Pd, M.Si, dari SMPN 2 Kalimanah ke SMPN 2 Purbalingga. Jadi seperti bertukar tempat saja. Semoga bisa bertugas dengan baik ya, Bapak-bapak...
ESQ Kelas IX Tahun Pelajaran 2015/2016 SMP Negeri 2 Purbalingga


Memotivasi Siswa dengan ESQ
Shelvia Putri Damayanti - IXG

Jumat,  22 April 2016,  SMP N 2 Purbalingga
Emotional Spiritual Quotient atau sering disingkat dengan ESQ telah dilaksanakan untuk semua siswa-siswi kelas 9 dan juga orang tua atau wali murid, dengan tujuan agar orang tua dan siswa mampu bekerja sama dalam meningkatkan kualitas belajar agar prestasi para siswa meningkat sehingga dapat membawa nama baik SMP N 2 Purbalingga. Emotional Spiritual Quotient ini dilaksanakan di Gedung Sarwa Guna pada pukul 08. 00 – selesai. Di sana semua siswa-siswi kelas 9 duduk berdampingan dengan orang tua masing-masing.
Acara ini dipandu oleh salah satu motivator yang sekaligus sebagai orang tua salah satu siswi kelas 9, yang bernama Ibu Dra. Rudi Mulyatiningsih, M.Pd atau sering disapa dengan Ibu Rudi. Pada pertemuan itu Ibu Rudi menasihati para siswa agar mampu untuk mengurangi waktu bermainnya dan menambah waktu belajarnya dalam kurun waktu setengah bulan ini atau sampai hari terakhir UN.
Acara itu terdiri dari beberapa susunan acara, antara lain pembukaan, doa, sambutan dari Kepala Sekolah, ESQ, dan juga penutup. Pada saat ESQ ada sesi bagi orang tua menyampaikan harapan kepada anaknya masing-masing, serta ada juga sesi dimana para siswa meminta maaf pada orang tua melalui sebuah surat.
Pada saat orang tua membaca surat tersebut banyak orang tua yang tidak mampu menahan isak tangis, sehingga suasana menjadi lebih hening dari sebelumnya. Di acara tersebut juga ada sesi para siswa dan orang tua mengikrarkan sebuah ikrar denganbersama-sama. Ikrar tersebut diucapkan serentak oleh semua siswa dan semua orang tua. Acara itu juga sering diiringi diisi dengan film atau video yang menyentuh hati.
Setelah dirasa cukup untuk memotivasi para siswa dan orang tua. Ibu Rudi pun menyuruh semua siswa untuk merenungkan hal-hal yang pernah mereka lakukan dengan orang tuanya masing-masing. Setelah itu Ibu Rudi pun menyuruh para siswa dan orang tua muslim untuk menyenandungkan Asmaul Husna yang dibantu dengan sebuah tayangan video.
Acara ESQ itu pun ditutup dengan bacaan hamdalah dan setelah itu para siswa pun pulang dengan orang tuanya masing-masing. Mudah-mudahan dengan diadakan ESQ ini para siwa dan orang tua mampu bekerja sama dalam hal meningkatkan kualitas belajar dan juga mudah-mudahan akan terjadi komunikasi yang baik antara siswa dan orang tua.
Menurut Bapak Harmanto selaku wali kelas dari 9G berpendapat bahwa acara ESQ  ini cukup menarik bagi orang tua dan siswa sehingga keduanya mampu termotivasi apa yang belum dilakukan oleh mereka. Sayangnya ada sebagian siswa dan orang tua yang datang terlambat ketika menghadiri acara tersebut.
Sedangkan menurut Ibu Dwi Wahyuni selaku wali kelas dari kelas 9C berpendapat bahwa acara ESQ cukup menarik, tetapi masalah termotivasi atau tidaknya itu tergantung pada siswa dan orang tuanya masing-masing.
Demikian sedikit liputan kami dalam acara ESQ. Semoga bermanfaat.